https://jurnal.stpreinha.ac.id/index.php/japb/issue/feed JAPB: Jurnal Agama, Pendidikan dan Budaya 2025-12-22T00:00:00+00:00 Yosep Belen Keban [email protected] Open Journal Systems <p>Jurnal Agama, Pendidikan, dan Budaya merupakan jurnal yang diterbitkan oleh STP Reinha Larantuka</p> https://jurnal.stpreinha.ac.id/index.php/japb/article/view/438 PRINSIP-PRINSIP MORAL DASAR DAN PENDEKATAN DEONTOLOGIS DALAM TEOLOGI MORAL KATOLIK MODERN 2025-06-27T04:15:15+00:00 Maria Yosania Teluma [email protected] Hildegardis Djawa Tobi [email protected] <p>Kehidupan manusia tidak terlepas dari tindakan dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan perilakunya. Hal ini dapat membuat manusia bertindak hal yang tidak sesuai dengan moral dasar dan pendekatan deontologis dalam teologi moral Katolik seperti sikap tidak jujur, tidak adanya keadilan, adanya kasus pembunuhan, aborsi, kasus bunuh diri dan lain sebagainya. Kajian ini berupaya untuk memberikan jawaban atas permasalahan yang bertentangan dengan teologi moral Katolik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan yang diambil dari berbagai macam sumber seperti dokumen Gereja Katolik, Kitab Suci, buku, dan jurnal. Kajian ini menemukan bahwa prinsip moral dasar dan pendekatan deontologis dalam teologi moral Katolik menekankan bahwa perilaku atau tingkah laku manusia harus sesuai dengan nilai-nilai moral dan sepuluh perintah Allah. Selain itu, perilaku dan tindakan manusia harus berakar pada hati nurani, akal budi sehingga setiap manusia hidup dalam kasih sesuai dengan teladan Yesus Kristus dan nilai-nilai kekatolikan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.</p> 2025-12-22T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JAPB: Jurnal Agama, Pendidikan dan Budaya https://jurnal.stpreinha.ac.id/index.php/japb/article/view/469 TEOLOGI PUBLIK DAN BUDAYA HUMAT TIMOR: RELEVANSINYA BAGI MULTIKULTURALISME DI INDONESIA 2025-10-24T11:27:54+00:00 Rikhardus Poli [email protected] Raymundus I Made Sudhiarsa [email protected] <p>This paper focuses on the relevance of the <em>humat</em> culture (brotherhood) in the Timorese tradition of East Nusa Tenggara (NTT) as a foundation for developing a contextual public theology within Indonesia’s multicultural society. In the Timorese tradition, <em>humat</em> is understood as brotherhood and solidarity that transcend biological ties, manifested through practices of mutual cooperation (<em>gotong royong</em>), customary reconciliation, and openness toward “the other.” Using a qualitative method, particularly a descriptive-analytical approach, this study reveals that <em>humat</em> embodies three essential dimensions aligned with the principles of public theology: solidarity, inter-identity brotherhood, and reconciliation. These dimensions contribute significantly to strengthening Indonesian multiculturalism amid the threats of intolerance and social fragmentation. The purpose of this paper is to demonstrate that <em>humat</em> culture can serve as a public ethic that encourages the Church, religious communities, civil society, and the state to build an inclusive, just, and peaceful common life. Thus, the findings affirm that <em>humat</em> is not merely a local cultural heritage of Timor, but an ethical-theological source of inspiration for developing a relevant public theology in Indonesia’s multicultural context.</p> 2025-12-22T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JAPB: Jurnal Agama, Pendidikan dan Budaya https://jurnal.stpreinha.ac.id/index.php/japb/article/view/487 FILOSOFI HUMA BETANG DAN SPIRITUALITAS KOMUNITAS KRISTIANI DI KALIMANTAN TENGAH: SEBUAH REFLEKSI TEOLOGIS KONTEKSTUAL 2025-12-04T07:47:43+00:00 Marianus Rago Kristeno [email protected] Intansakti Pius X [email protected] Emmeria Tarihoran [email protected] <p>The philosophy of Huma Betang serves as a moral foundation in the traditional culture of the Dayak communities in Central Kalimantan. Through inculturation, the Church internalizes the values contained in the Huma Betang philosophy by relating them to the spiritual values of communal life. This study aims to explore the points of convergence between the philosophical values of Huma Betang and Christian communal spirituality, as well as to reflect on their relevance for the life of local Catholic communities. Using a qualitative approach through a contextual reflective theological method, this research examines literature related to Dayak culture, Church documents, and the principles of inculturation. The findings indicate that the values of togetherness, equality, mutual cooperation, tolerance, and social responsibility in Huma Betang correspond to the principles of koinonia, diakonia, and martyria in the Catholic Church. These values not only function as a bridge for inculturation but also enrich pastoral practice, catechesis, and the faith experience of the community. The implications of this study affirm that integrating local cultural values into the life of the Church can deepen the faith identity of the community, strengthen the spirit of synodality, and help build the Church as an inclusive and solidaristic common home. Thus, Huma Betang can serve as a theological and pastoral inspiration for developing Christian communal spirituality in Central Kalimantan.</p> 2025-12-22T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JAPB: Jurnal Agama, Pendidikan dan Budaya https://jurnal.stpreinha.ac.id/index.php/japb/article/view/488 PERSPEKTIF AGAMA TENTANG KESETARAAN GENDER DI INDONESIA: ANALISIS TEOLOGIS DAN SOSIAL TERHADAP PERAN PEREMPUAN 2025-12-05T01:24:41+00:00 Yanto Sandy Tjang [email protected] Herkulana Mekarryani Soeryamassoka [email protected] Victoria Julianti Siska Ubeq [email protected] Vensius Rico Novi Andry [email protected] Theresia Lina Iswaraningsih [email protected] Yosephin Metauli Situmorang [email protected] <p>Gender equality has become a major concern in Indonesia’s religious life, influenced by patriarchal social structures and diverse interpretations of women’s roles. This study explores the theological foundations of gender equality in six official religions: Islam, Protestantism, Catholicism, Hinduism, Buddhism, and Confucianism, and examines the gap between doctrinal ideals and socio-religious practices. Using a qualitative approach through literature review and interreligious comparative analysis, data were drawn from sacred texts, institutional documents, and academic works, analyzed through theological hermeneutics and sociological perspectives. Findings show that all religions recognize theological principles of gender equality, yet implementation is limited by patriarchal norms and historical traditions. Egalitarian values are often constrained by gender-biased structures. Inclusive theological reinterpretation is essential to align religious teachings with modern contexts and strengthen women’s participation in public and religious spheres. Achieving gender equality requires critical interfaith reflection to promote social justice and uphold human dignity.</p> 2025-12-22T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JAPB: Jurnal Agama, Pendidikan dan Budaya https://jurnal.stpreinha.ac.id/index.php/japb/article/view/490 BERKAT DALAM KEADAAN IRREGULAR DAN PASANGAN SESAMA JENIS DALAM DOKUMEN FIDUCIA SUPPLICANS 2025-12-05T02:44:08+00:00 Yakobus Belo Tobi [email protected] <p>Corak kehidupan manusia tentu saja dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang secara pesat. Hal ini dapat memudahkan setiap manusia dapat berkomunikasi dan dapat menyukai lawan jenis baik itu perempuan maupun laki-laki. Terkait maraknya fenomena hidup bersama pasangan sesama jenis, baik homoseksual maupun lesbian, ensiklik <em>Fiducia Supplicans</em> keluarkan oleh Paus Fransiskus. Kajian ini berupaya memberikan jawaban atas permasalahan pemberkatan dalam keadaan tidak teratur dan pasangan sesama jenis, sebuah tinjauan pastoral Paus Fransiskus. Metode yang digunakan adalah studi pustaka yang diambil dari berbagai sumber seperti dokumen <em>Fiducia Supplicans, </em>teks Kitab Suci tentang perkawinan, dan magisterium Gereja, jurnal, buku, dan sumber daring. Kajian ini menemukan bahwa Paus Fransiskus memberikan kesempatan dan kontribusi kepada pasangan sesama jenis dalam memohon pemberkatan, namun pemberkatan tersebut tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Terdapat keterbukaan dan ruang dari Paus Fransiskus untuk memberikan keadilan kepada semua orang, termasuk pasangan sesama jenis. Gereja Katolik tetap berpegang teguh pada ajaran tentang perkawinan, yaitu ikatan antara seorang pria dan seorang wanita.</p> 2025-12-22T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JAPB: Jurnal Agama, Pendidikan dan Budaya https://jurnal.stpreinha.ac.id/index.php/japb/article/view/498 PANGGILAN UNTUK PERTOBATAN EKOLOGIS: MAKNA BANJIR BANDANG SUMATRA UTARA MENURUT ENSIKLIK LAUDATO SI’ 2025-12-17T02:36:12+00:00 Alexander Asin [email protected] <p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh peristiwa banjir bandang di Sumatra Utara yang menimbulkan dampak ekologis, sosial, dan kemanusiaan yang serius serta mengundang refleksi teologis dan moral yang mendalam. Peristiwa ini menunjukkan keterkaitan antara krisis lingkungan dan krisis tanggung jawab manusia terhadap alam. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis makna banjir bandang sebagai panggilan pertobatan ekologis dalam terang Ensiklik Laudato si’ Paus Fransiskus. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teologis-interpretatif yang dipadukan dengan analisis sosial-ekologis untuk memahami relasi antara kerusakan lingkungan dan krisis spiritual manusia. Fokus penelitian diarahkan pada wilayah-wilayah terdampak banjir bandang di Provinsi Sumatra Utara. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka terhadap Ensiklik Laudato si’, dokumen Gereja, serta data sekunder dari media sosial, yang diperkaya dengan refleksi kontekstual atas realitas sosial-budaya masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banjir bandang tidak semata-mata dipahami sebagai fenomena alam, melainkan sebagai konsekuensi dosa ekologis manusia yang terwujud dalam eksploitasi alam, kerusakan hutan, pengelolaan lahan yang tidak bertanggung jawab, serta pengabaian prinsip tata ruang berkelanjutan. Dalam perspektif Laudato si’, peristiwa ini menjadi panggilan pertobatan ekologis yang menuntut perubahan cara pandang, sikap, dan perilaku manusia terhadap alam serta kehidupan bersama sebagai tanggung jawab iman bersama dalam merawat bumi sebagai rumah bersama.</p> <p> </p> 2025-12-22T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JAPB: Jurnal Agama, Pendidikan dan Budaya