https://jurnal.stpreinha.ac.id/index.php/e-jr/issue/feed JURNAL REINHA 2025-12-23T00:00:00+00:00 Yosep Belen Keban, S.S.,M.,M [email protected] Open Journal Systems <p style="text-align: justify;"><strong>Jurnal Reinha</strong> adalah jurnal cetak dan online Sekolah Tinggi Pastoral Reinha Larantuka yang telah memiliki Nomor E-ISSN : 2807-2669 dan P-ISSN : <u>2089-3159 dengan Nomor SK ISSN : 0005.28072669/K.4/SK.ISSN/2021.08</u>. Jurnal ini terbit setiap bulan <strong>Desember dan Juni</strong>. Artikel yang dimuat adalah adalah artikel yang bertemakan Pendidikan dan Pengajaran Agama Katolik, Budaya, Sosiologi, Pastoral, Ekopastoral, Katekese, Kitab Suci, Perkawinan Gereja Katolik, Teologi Katolik, dan juga isu-isu kependidikan secara umum dan merupakan hasil penelitian atau studi pustaka, terutama dari para dosen, alumni dan mahasiswa baik dari lingkungan kampus maupun dari luar kampus STP Reinha.</p> https://jurnal.stpreinha.ac.id/index.php/e-jr/article/view/472 MEMBANGUN KESADARAN HIDUP BERKOMUNITAS DI INDONESIA MELALUI AKU “KOMUNITER”: PERSPEKTIF ARMADA RIYANTO 2025-12-03T02:22:28+00:00 Thomas Kadek Lintang Kurniawan [email protected] FX. Eko Armada Riyanto [email protected] <p>Penulis memfokuskan tulisan ini pada buku Relasionalitas, karya Armada Riyanto dengan membahas tema “Komuniter” (Ajektif) sebagai “Aku”. Metodologi penulisan ini adalah membaca, memahami dan merefleksikan tema tersebut agar dapat menjadi tulisan yang baik. Penulis juga menggunakan literatur lainnya untuk mendukung tulisan ini. Tulisan ini membahasan pada tema komunitas dalam kehidupan sebagai warga Indonesia. Argumen penulis membahas tentang penyerangan sebuah rumah yang digunakan untuk beribadah di Sukabumi. Peristiwa penyerangan tersebut mencerminkan rendahnya kesadaran akan sikap menghargai sebagai satu komunitas yaitu Indonesia. Penulis menemukan adanya tindakan main hakim sendiri. Oknum-oknum tersebut merasa terganggu dengan kegiatan ibadah. Mereka tidak memanfaatkan komunikasi yang ada dengan baik. Penulis menemukan bahwa pihak yang dirugikan merasa kehilangan hak mereka untuk beribadah. Selain itu, peristiwa tersebut membuat situasi toleransi menjadi tidak stabil. Realitas ini mencoreng dasar undang-undang tentang menghargai hak semua orang untuk beribadah. Kesadaran akan hidup komunitas sebagai masyarakat Indonesia menjadi turun.</p> 2025-12-23T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JURNAL REINHA https://jurnal.stpreinha.ac.id/index.php/e-jr/article/view/473 DARI RELASI AKU DAN SESAMA MENUJU SOCIETAS KITA 2025-10-25T02:01:19+00:00 Deni Daniel No [email protected] <p>Fokus tulisan ini adalah mendalami Relasi Aku dan Sesamaku Menuju <em>Societas</em> Kita. Pada hakikatnya manusia bukan hanya sebagai makhluk rasional melainkan juga relasional. Relasi menjadi hal yang sangat fundamental dalam kehidupan manusia. Relasi <em>aku</em> dan <em>sesamaku</em> bukan hanya pertemuan yang bersifat kebetulan melainkan dasar dari pengalaman kemanusiaan yang paling mendalam. Hal ini menunjukkan hakikat dasar manusia sebagai makhluk relasionalitas. Relasi yang dibangun tentunya dilandasi oleh sikap saling percaya, rasa tanggung jawab, dan pemberian diri yang otentik. Dengan menggunakan studi pustaka, penulis mendalami apa yang menjadi fondasi dasar terciptakan hubungan aku dan sesama membentuk <em>societas</em> kita yang absolut. Kemudian penulis juga menggunakan jalan pikir komparatif agar bisa menemukan benang merah yang melandasi terbentuknya societas kita. Dalam pencarian akan relasi aku dan sesamaku menuju societas kita. penulis menemukan bahwa pada hakikatnya manusia tidak dapat hidup sendiri, tetapi dalam peziarahannya manusia selalu membutukan yang lain sebagai sahabat dan rekan seperjalanan sepanjang peziarahan.</p> 2025-12-26T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JURNAL REINHA https://jurnal.stpreinha.ac.id/index.php/e-jr/article/view/476 USIA PERKAWINAN MENURUT HUKUM KANONIK 2025-10-31T03:39:57+00:00 Andreas Jama [email protected] <p>Perkawinan dini masih menjadi isu sosial dan marak terjadi di Indonesia. Fenomena tersebut menunjukkan adanya kesenjangan yang lebar antara norma hukum sipil tentang usia perkawinan dengan praktik di lapangan. Hal tersebut juga serentak menunjukkan pentingnya bagi orang Katolik dewasa ini terutama kaum muda, untuk memahami secara mendalam dan benar tentang batas minimum usia perkawinan yang ditetapkan hukum kanonik dan juga dampak dari perkawinan dini tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kepustakaan. Data-data penelitian diperoleh melalui buku, dokumen Gereja dan artikel ilmiah. Penelitian ini menemukan bahwa pemahaman mendalam dan benar bagi kaum muda Katolik mengenai batas minimum usia perkawinan yang ditetapkan hukum kanonik dan dampak perkawinan dini merupakan langkah preventif terhadap terjadinya pernikahan dini dalam Gereja Katolik. Pemahaman tersebut idealnya dapat dilakukan di sekolah. Guru agama Katolik sebagai figur yang memiliki posisi strategis untuk menanamkan pemahaman yang benar bagi generasi mendatang, memikul tanggung jawab yang besar untuk memberikan pemahaman yang mendalam dan benar bagi peserta didik di sekolah mengenai batas minimum usia perkawinan menurut hukum kanonik dan juga dampak perkawinan dini. Membekali mereka dengan pengetahuan tersebut sejak dini, memungkinkan mereka menghindari diri dari jebakan pernikahan dini dan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk melangsungkan perkawinan pada usia yang matang.</p> 2025-12-26T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JURNAL REINHA https://jurnal.stpreinha.ac.id/index.php/e-jr/article/view/477 LONTO LEOK KONSEP DUDUK MELINGKAR BUDAYA MANGGARAI DALAM PERSPEKTIF METAFISIKA INTERSUBJEKTIF 2025-11-26T14:55:01+00:00 Lorensius Sueng [email protected] Yohanes Delto Dosi [email protected] <p>Fokus tulisan ini secara mendalam menelaah makna kultural <em>lonto leok</em> (tradisi duduk melingkar masyarakat Manggarai) melalui pendekatan metafisika intersubjektif. Analisis menunjukkan bahwa <em>lonto leok</em> tidak hanya merepresentasikan bentuk fisik, melainkan sebuah ruang eksistensial tempat realitas dikonstruksi secara kolektif melalui proses dialogis. Perspektif metafisika intersubjektif digunakan sebagai pisau analisis untuk mengungkap bagaimana realitas dibentuk dalam ruang bersama antar-subjek. Temuan penelitian mengungkap bahwa bentuk melingkar secara metafisis melambangkan prinsip kesetaraan, keterhubungan, dan keutuhan komunitas. Dalam ruang ini, pengetahuan dan nilai-nilai tidak bersifat individual dan objektif, tetapi terkonstitusi serta memperoleh keabsahannya melalui interaksi komunikatif partisipatif. Dengan demikian, <em>lonto leok</em> mempresentasikan suatu kosmologi yang memandang realitas sosial dan budaya sebagai produk dari dinamika interaksi dan konsensus kolektif. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa <em>lonto leok</em> menawarkan model metafisika holistik yang menempatkan relasi dan komunikasi sebagai landasan ontologis kehidupan bersama.</p> 2025-12-26T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JURNAL REINHA https://jurnal.stpreinha.ac.id/index.php/e-jr/article/view/478 PAROKI SANTO ANDREAS TIDAR SEBAGAI RUMAH PEMBINAAN IMAN KAUM MUDA KATOLIK PERANTAU MALANG 2025-11-27T14:55:25+00:00 Alexander Asin [email protected] Yohanes I Wayan Marianta [email protected] <p>Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Paroki Santo Andreas Tidar sebagai rumah pembinaan iman bagi kaum muda Katolik perantau di Kota Malang melalui perspektif solidaritas sosial Émile Durkheim. Kaum muda perantau umumnya menghadapi pergulatan iman, keterasingan sosial, dan tekanan akademik ketika hidup jauh dari keluarga serta berada dalam lingkungan mayoritas beragama lain. Untuk memahami dinamika tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 12 informan yang terdiri dari 8 pelajar dan 4 pekerja muda, observasi partisipatif dalam kegiatan OMK, serta studi dokumentasi terhadap arsip paroki, laporan dan catatan pastoral. Analisis data dilakukan dengan analisis tematik melalui proses reduksi, kategorisasi, dan interpretasi berbasis kerangka solidaritas sosial Durkheim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Paroki Santo Andreas Tidar berfungsi sebagai lokus terbentuknya solidaritas organik yang memperkuat identitas religius, kohesi sosial, dan perkembangan spiritual kaum muda perantau melalui kegiatan kategorial, pelayanan liturgis, kegiatan sosial, dan pendampingan rohani. Faktor pendukung pembinaan iman meliputi dukungan pastoral, struktur OMK yang inklusif, dan fasilitas paroki, sedangkan hambatan mencakup kesibukan akademik, pengaruh media sosial, kelelahan fisik, dan keterbatasan dana. Hambatan tersebut dapat diatasi melalui manajemen waktu yang lebih baik, pendampingan digital yang bijaksana, pengaturan ritme kegiatan yang tidak membebani, serta pengembangan strategi pendanaan kreatif dan berkelanjutan.</p> 2025-12-26T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JURNAL REINHA https://jurnal.stpreinha.ac.id/index.php/e-jr/article/view/481 NILAI-NILAI SOSIAL DALAM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI SEKOLAH DASAR KATOLIK ST. FRANSISKUS XAVERIUS KAKASKASEN, TOMOHON, SULAWESI UTARA 2025-12-02T05:41:51+00:00 Marianus Muharli Mua [email protected] Shefry Yanny Fransisco Topit [email protected] Antonius Heatubun [email protected] <p>Penelitian ini bertujuan menganalisis integrasi nilai-nilai sosial dalam pendidikan agama Katolik di Sekolah Dasar Katolik St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam, peneliti mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai solidaritas, keadilan, dan kasih diintegrasikan dalam pembelajaran agama Katolik. Temuan menunjukkan bahwa integrasi nilai-nilai sosial dilakukan melalui pendekatan teologis-pedagogis yang holistik, melibatkan pendidikan karakter, dialog, dan persekutuan komunal. Program-program seperti Dana Sehat, kunjungan ke keluarga yang berduka, dan pengumpulan dana solidaritas untuk korban bencana alam menjadi manifestasi konkret dari nilai-nilai tersebut. Perubahan perilaku siswa yang signifikan terlihat melalui peningkatan kepedulian sosial, empati, dan tanggung jawab moral. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan agama Katolik yang menekankan nilai-nilai sosial efektif dalam membentuk karakter dan kepribadian siswa yang moralis dan peduli dengan sesama, meskipun tantangan implementasi tetap perlu dipertimbangkan dalam konteks keberagaman agama di lingkungan sekolah</p> 2025-12-26T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JURNAL REINHA https://jurnal.stpreinha.ac.id/index.php/e-jr/article/view/483 METODOLOGI KATEKESE SETURUT PETUNJUK UNTUK KATEKESE DAN PENERAPANNYA DALAM PERTEMUAN KATEKESE UMAT 2025-12-03T02:01:17+00:00 Laurentius Yustinianus Rota [email protected] <p>Petunjuk Untuk Katekese (PUK) 2020, terutama dalam Artikel 195-196 telah memberikan kemungkinan baru dalam proses pelaksanaan katekese umat, terutama terkait dengan pemilihan metode, penerapan model pertemuan dan penggunaan media-media yang selaras zaman. Namun, dalam praktik pelaksanaan katekese umat pembaharuan itu belum dimanfaatkan secara optimal, karena berbagai tantangan yang menyertai implementasinya. Untuk mendalami perbedaan antara ajakan PUK dan kenyataan yang terjadi, penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, terutama analisis konten. Sambil memperhatikan sumber-sumber pustaka, sebagai sampel data lapangan peneliti mengambil data kualitatif dari lembaran evaluasi katekese umat Masa Prapaskah 2025 di wilayah Keuskupan Agung Ende. Data evaluasi tersebut disandingkan dengan artikel 195-196 dari PUK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pertemuan katekese umat telah diterapkan pula apa yang dikehendaki oleh artikel 195-196 PUK, walau belum optimal. Sosialisasi lanjutan dan peningkatan kualitas para fasilitator pertemuan katekese, terutama dalam memanfaatkan metode dan sarana yang relevan, tetaplah sangat diperlukan.</p> 2025-12-26T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JURNAL REINHA https://jurnal.stpreinha.ac.id/index.php/e-jr/article/view/484 IMPLEMENTASI NILAI EKOLOGI INTEGRAL DALAM PENDIDIKAN IMAN KATOLIK BERDASARKAN LAUDATO SI’ 2025-12-03T02:10:24+00:00 Santo Yohanes [email protected] <p>Ensiklik <em>Laudato Si’</em> karya Paus Fransiskus menegaskan pentingnya ekologi integral sebagai dasar bagi hubungan yang harmonis antara manusia, Allah, dan seluruh ciptaan. Dalam konteks pendidikan iman Katolik, nilai-nilai ekologi integral menjadi sarana untuk membentuk pribadi yang beriman sekaligus bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan mengimplementasikan nilai-nilai ekologi integral yang terdapat dalam <em>Laudato Si’</em> ke dalam proses pendidikan iman Katolik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka serta tafsir hermeneutik-teologis, melalui analisis isi dan pendekatan teologis normatif terhadap ensiklik <em>Laudato Si’</em> serta dokumen Gereja lain yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai seperti tanggung jawab ekologis, solidaritas sosial, kesederhanaan hidup, dan spiritualitas ciptaan dapat diintegrasikan dalam kegiatan katekese, liturgi, dan pembelajaran agama Katolik. Implementasi nilai-nilai tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran iman yang konkret terhadap panggilan manusia untuk merawat rumah bersama sebagai wujud iman yang hidup dan bertanggung jawab.</p> 2025-12-26T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JURNAL REINHA https://jurnal.stpreinha.ac.id/index.php/e-jr/article/view/485 SANTO LONGINUS DALAM TRADISI GEREJA: KAJIAN ATAS DIMENSI HISTORIS, TEOLOGIS, DAN DEVOSIONAL 2025-12-03T13:59:29+00:00 Yanto Sandy Tjang [email protected] Amandus Suhaedi Dol [email protected] Laurentius Prasetyo [email protected] Felisitas Yuswanto [email protected] <p>Penelitian ini menganalisis figur Santo Longinus melalui pendekatan multidisipliner yang mencakup dimensi historis, teologis, hagiografis, dan devosional. Meskipun narasi Injil hanya menyebut seorang prajurit dan <em>centurion</em> tanpa identitas personal dalam kisah sengsara, tradisi Gereja kemudian mengembangkan sosok “Longinus” sebagai saksi penyaliban yang mengalami pertobatan dan akhirnya dihormati sebagai santo. Kajian ini menunjukkan bahwa konstruksi figur Santo Longinus terbentuk melalui interaksi antara teks kanonik, tradisi apokrif, elaborasi hagiografis, serta penerimaan liturgis dan devosional dalam Gereja Timur dan Barat. Secara teologis, tindakan penusukan lambung Kristus dipahami sebagai momen pewahyuan misteri keselamatan, terutama melalui simbolisme darah-air yang sejak tradisi patristik dikaitkan dengan sakramen Baptisan dan Ekaristi serta gagasan Gereja yang lahir dari sisi Kristus. Dari perspektif historis–kultural, perkembangan legenda, ikonografi, dan devosi, termasuk venerasi relikui <em>Holy Lance</em>, memperlihatkan bagaimana memori kolektif Gereja membentuk identitas spiritual umat melalui figur Santo Longinus. Analisis kritis penelitian menegaskan bahwa signifikansi Santo Longinus tidak terletak pada kepastian historis, melainkan pada daya simbolisnya sebagai teladan pertobatan, saksi iman dan representasi informasi rohani yang bersumber dari misteri salib. Dengan demikian, Santo Longinus dipahami bukan sekedar tokoh historis, melainkan konstruksi spiritual yang memadukan fakta biblis, tradisi, dan refleksi teologis serta berfungsi sebagai model pastoral yang menampilkan teladan pertobatan dan kesaksian iman Kristiani.</p> 2025-12-26T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JURNAL REINHA